Memulihkan Gambar Allah: Pendampingan Pastoral bagi Korban Perundungan dalam Perspektif Teologi Pastoral
Perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan urban saat ini bukan lagi sekadar dinamika pergaulan remaja, melainkan sebuah krisis kemanusiaan yang mendalam. Berbagai kasus kekerasan yang terjadi di sekolah menengah di Jakarta, yang berdampak pada trauma fisik hingga tindakan destruktif akibat depresi, menjadi lonceng peringatan bagi para pelayan pastoral. Sebagai praktisi pelayanan, kita harus bertanya: di mana posisi teologi pastoral ketika martabat seorang anak manusia dirusak di ruang-ruang publik maupun di balik layar gawai?
Dalam
perspektif teologi pastoral, perundungan bukan sekadar pelanggaran disiplin,
melainkan sebuah bentuk dosa terhadap kemanusiaan. Setiap individu diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Ketika seorang siswa
dirundung, pelaku sebenarnya sedang mencoba merusak citra Allah dalam diri
sesamanya melalui penyalahgunaan kekuasaan.
Perundungan
menciptakan isolasi spiritual yang pekat; korban sering kali merasa Tuhan
"absen" dalam penderitaan mereka, yang berujung pada hilangnya harga
diri dan makna hidup. Tugas pendampingan pastoral di sini adalah melakukan restorasi
identitas—meyakinkan korban bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh kasih
Sang Pencipta, bukan oleh narasi kebencian dari lingkungan sekitarnya.
Pendamping harus hadir untuk memungut kepingan harga diri yang retak dan
menyatukannya kembali dalam terang kasih Kristus.
Pendampingan
pastoral di lingkungan sekolah menengah menuntut pendekatan yang kontekstual.
Terdapat dua pilar utama yang perlu dibangun:
- Teologi
Kehadiran (Theology of Presence): Pendampingan tidak dimulai dengan penghakiman atau
nasihat instan, melainkan dengan telinga yang siap mendengar. Seperti
Kristus yang hadir dan menangis bersama Maria dan Marta sebelum
membangkitkan Lazarus, pendamping pastoral harus hadir dalam ruang "ratapan"
(lamentasi) korban. Kehadiran yang tulus sering kali lebih
menyembuhkan daripada kata-kata teologis yang kaku.
- Hospitalitas
Digital: Di era
media sosial, perundungan sering kali berpindah ke ruang siber (cyberbullying).
Oleh karena itu, pelayanan harus bersifat menjemput bola. Inovasi seperti "Kotak
Curhat Digital" merupakan bentuk keramahtamahan pastoral di ruang
siber. Sistem pelaporan yang privat dan aman ini menyediakan saluran bagi
Generasi Z yang cenderung lebih nyaman bersuara melalui platform digital
daripada pertemuan tatap muka langsung di awal proses pemulihan.
Pelayanan
pastoral bagi korban perundungan adalah panggilan untuk menjadi "penjaga
sesama." Dengan mengintegrasikan empati yang tulus, fondasi teologis yang
kuat, dan pemanfaatan teknologi yang relevan, kita dapat menolong mereka keluar
dari lembah kekelaman trauma. Setiap tindakan pendampingan yang kita lakukan
adalah upaya nyata untuk memulihkan martabat manusia yang telah dicuri, agar
setiap anak didik dapat kembali melihat diri mereka sebagaimana Allah melihat
mereka: berharga, dikasihi, dan bermartabat.
Komentar
Posting Komentar